Seharusnya postingan ini sudah jatuh tempo, tapi baru sempat ditulis, semoga tak ada kompensasi dibalik keterlambatan ini :).
Beberapa
bulan yang lalu saya sempat berdiskusi dengan dosen saya waktu masih
S1. Tentang seekor semut imut-imut yang baru memasuki komunitas semut
yang sebenarnya. Sejak TK, SD, SMP, SMA, S1, dan S2 saya memperhatikan (
dan masih ingat betul
personilnya), beberapa orang cenderung akan lebih sering bersama
dengan
orang-orang yang merasa cocok dengannya, layaknya semut, ia akan
membentuk koloni dan berusaha sekuat tenaga mensejahterakan anggota
koloninya. Masing-masing koloni mempunyai kepentingan dan kadang secara
langsung maupun tidak langsung acuh tak acuh terhadap koloni lain. Lalu
bagaimana jika ada semut baru yang masih imut imut
datang ingin bergabung? mana koloni yang akan dipilih? jika semut itu
membawa misi perdamaian
(walau secara kasat mata masing-masing koloni tidak sedang perang hehehe),
dan berusaha untuk tidak memihak salah satu koloni, apa yang harus ia
lakukan? haruskah ia bergabung salah satunya? jika ia bergabung salah
satu, lalu yang lain membencinya? belum lagi si semut harus beradaptasi
dengan segalanya, baik tempatnya, kebijakannya, dan semut-semut lainnya.
sedangkan si semut imut-imut hanya mempunyai kekuatan selemah-lemah
iman, yaitu berdoa :D.
Dalam diskusi itu pak dosen mengatakan kepada saya, kira-kira sis semut mau ngapain? apakah misi perdamaiannya akan hancur karena ia luluh pada salah satu koloni? atau ia akan menjadi pelanduk yang mati ditengah-tengah? laksana peribahasa "
gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati ditengah-tengah".
Tentu tidak mau bukan? siapa yang mau menjadi semut yang tak berguna,
tak berarti apa apa. Beliau berujar, yang harus dilakukan si semut
adalah menjad pandai, cerdik, cerdas dan disegani (intinya begitu). Si
semut harus membuat mapping tentang kelemahan dan kelebihan dirinya,
tentang keadaan koloni yang ada dan mencari celah dimana ia bisa
diterima. Pelajari segalanya agar bisa melihat lebih lebar, melihat
lebih luas lagi apa yang sebenarnya terjadi dan mana yang baik benar
tanpa harus memihak salah satu, lebih bagus lagi jika ia mempunyai temen
semut yang juga netral, alias non koloni. Pantaskan diri untuk
disegani, buat target pribadi, target pencapaian yang membuat si semut
berarti, yang secara ekstrimnya, sebuah acara atau kegiatan tak mungkin
bisa jalan tanpa dia. Semut semut lain akan segan dan membutuhkan si
semut imut-imut jika ia memang serius dan mempunyai "
portable equity" yang baik.
Tapi ingat, jalan menuju kesana tidaklah mudah, sekali lagi,.. harus
bisa mapping dan mempunyai target pencapaian yang jelas, kalau perlu
buat KPI (
Key Performance Indicator) nya hehehehe,... Dan saat
ini sis emut imut imut masih belajar beradaptasi dan berusaha sekuat
tenaga agar mau membuat target. Membuat mapping dan beberapa usaha sih
sudah, hanya saja, kadang masih dikuasai emosi yang membuatnya gamang.
Wajar,.... karena si semut masih imut imut dan baru memasuki komunitas
yang baru. Layaknya sunatullah, ia akan selalu mencari cara dan belajar
untuk mensukseskan misi perdamaian dunia hahahaa,...
***Kalau Pak Winda (Dosen saya) membaca, maaf ya pak kalau belum sesuai dengan diskusi, tapi saya nangkep maksudnya kok pak :D. Btw, sebenernya tidak cocok mengambil semut sebagai kambing hitam (ya iyalahhhh, masak semut jadi kambing, walaupun sama sama item :p), karena semut adalah makhluk yang rukun dan dermawan ternyata,... liat aja disini
http://kisahmuslim.com/fenomena-kehidupan-sosial-semut